ekspresi

aku mencoba untuk mengekpresikan diri di blog ini , sesuatu yang asing bagi saya dalam mengekspresikan diri... dari pada stess memikirkan diri sendiri yang penuh dengan pergumulan hidup. semua ini berawal dari disconnectnya internet..yang membuat gw tidak bisa browsing ke situs situs yang paling gw senangi ... stess, marah dan apalagi di pangkalpening dengan segala keterbatasannya membuat gw kurang kreatif... tapi akhirnya ya JC , mereka membuka "kran" browsing buat gw , ya ampun betapa senangnya diri ini seperti menemukan kembali jiwa gw yang sempat hilang entah kemana hilangnya. bisa kembali bertatap muka dengan teman teman seperjuangan walaupun hanya di dunia maya, bagaikan harta yang tak dapat dibeli...........(fuihh.......sampe segitunya) bodoh amat apa kata orang , yang penting kita happy dan tak mengganggu orang. yang penting hindari prinsip "susah liat orang senang , senang liat orang susah"

diam bukan berarti emas

diam bukan berarti emas
Jangan pernah takut untuk mengekspresikan diri anda, maju dan tunjukkan siapa diri anda sebenarnya ...jangan takut aku selalu bersamamu sampai akhir jaman ( he..he..itu bukan gw yang ngomong ) diam itu tidak selamanya emas , untuk mengungkap fakta dengan akurat , cepat dan berimbang dibutuhkan saran-saran dari saudara sekalian dalam peningkatan kemajuan Republik kita Indonesia yang tercinta ini .......jangan cuma bisa mimpi seperti di Republik Mimpi. "katakanlah tidak jika tidak dan katakanlah ya bila ya" jangan pernah takut karena kebenaran akan ada pada orang orang yang benar benar takut akan Tuhan.

Friday, April 6, 2007

renungan bagi yang sibuk berkarir

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Imron singkat.
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Rudi
Tetapi Imron tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.
“Tapi Papa…….”
Kesabaran Rudi pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Imron. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Rudi.
“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.
“Iya, iya, tapi buat apa ?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja… Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,- makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Imron polos.
Rudi pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

No comments: